Prioritas dalam makan bakso

No Comments

Dari sekian banyak pilihan makanan, malam ini pilihan jatuh pada bakso. Bukan karena ikut-ikutan Obama, tapi karena saya hanya pengen makan malam yang ringan tapi cukup mengenyangkan. (bakso ? ringan ?? no kidding ..)

Masih jam 6 sore tapi saya sudah stand by di salah satu gerai bakso yang cabangnya ada beberapa di Jakarta, salah satunya di mall karawaci. Yak, saya pengen makan bakso, tapi ngga pengen kringetan. Jadilah pilihannya di tempat ngebakso yang ada AC nya.

Beberapa pilihan menu seperti kuah bakso, bakso saja, sampai special campur nampaknya cukup menggoda. Pilihan saya akhirnya special campur lengkap dengan mie dan bihun. Alasannya simple, saya pengen nyobain semua biarpun cuma sedikit-sedikit.

Dan sebelum tulisan saya berlanjut menjadi review kuliner, demikian juga dengan prioritas keuangan. Sekian banyak kebutuhan, semuanya harus dipenuhi. Tidak semudah pesan bakso yang kalau tidak mau pakai mie, tinggal pesan bakso saja. Dengan pemasukan yang terbatas, harus dipilih yang mana harus dipenuhi terlebih dahulu, dan berapa banyak alokasi untuk kebutuhan tersebut.

Cara makan bakso juga sedikit banyak bisa menjadi contoh perilaku kita terhadap kebutuhan keuangan kita. Saya yakin hampir tidak ada yang mulai makan bakso dari kuahnya dihabiskan dahulu. Demikian juga jarang yang makan mie dahulu dan bakso belakangan, apalagi sampai sambelnya yang terakhir. Mayoritas kita akan makan bakso belakangan sebagai gong, demi untuk mencapai kepuasan maksimal.

Prioritas kebutuhan keuangan kita secara garis besar dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah have to, need to, dan yang ketiga adalah want to. Prioritas pemenuhannya pun berdasarkan urutan yang sudah disebutkan diatas.

Have to adalah kelompok kebutuhan yang wajib dipenuhi setiap bulannya. Apabila tidak dipenuhi akan mendatangkan masalah. Termasuk dalam kelompok ini adalah segala bentuk cicilan kita baik untuk rumah, mobil (yang sudah terlanjur punya), kartu kredit, asuransi dan tabungan.

Need to adalah kelompok kebutuhan yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari seperti biaya transportasi untuk kerja, makan dan berbagai kebutuhan primer (dan sekunder untuk sebagian orang) lainya. Kelompok need to juga harus dipenuhi, namun dalam jumlah besarnya dan pemenuhannya masih bersifat fleksibel dan bisa di kompromi.

Terakhir adalah kelompok want to. Kelompok ini murni berdasarkan keinginan kita. Smartphone terbaru, jalan-jalan, punya mobil padahal transportasi gampang, semua kebutuhan ini lebih bersifat untuk pemenuhan kenyamanan kita dan kita pun kemungkinan besar tidak akan mendapatkan masalah juga kebutuhan ini tidak terpenuhi sekarang.

Betul bahwa kelompok want to yang paling bisa dinikmati karena orientasinya adalah pemenuhan keinginan. Tapi dalam skala prioritas pemenuhan kelompok want to  adalah yang terakhir. Seperti saat kita makan bakso pun, makanlah bakso (bagian paling enak) paling terakhir. Jarang mie/bihun dimakan terakhir karena dari rasa bakso lebih enak dan kita ingin cita rasa bakso menempel sampai kita pulang. Selain itu kalau memang pengen makan mie tentu kita akan beli bakmie ayam atau bakmie goreng dan bukan bakso.

Identifikasi lah kebutuhan-kebutuhan keuangan kita setiap bulannya. Kemudian tentukan skala prioritas seperti saat kita makan bakso. Mudah-mudahan dengan demikian kita bisa mencapai kepuasan maksimal dalam menjalani kehidupan kita sehari-harinya.

Perencanaan Keuangan : Sebuah perjalanan, bukan tujuan

No Comments

Masih hari Rabu tapi bagi sebagian kita bayangan weekend sudah mulai mengganggu pikiran. Sudah berencana pergi kemana ? Pantai ? Gunung ? Mall ? Kemanapun itu yang penting tujuannya satu, tempat yang bisa dinikmati, baik perjalanannya maupun tujuannya.

Bagaimana kalau ke Bandung ? Good idea !
Pakai apa kesana ?
Mau langsung tiba atau mau mampir dulu di puncak ?
Kalau lewat puncak, macet ngga ya ?
Jam berapa harus berangkat agar tidak terjebak macet ?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi merupakan rencana perjalanan yang sedang kita susun. Mudah-mudahan dengan rencana ini, perjalanan Jakarta – Bandung menjadi bisa lebih dinikmati dan yang lebih penting lagi tidak salah jalan.

Financial Planning atau perencanaan keuangan adalah suatu proses, sama seperti perjalanan dari Jakarta menuju Bandung tadi. Proses perencanaan keuangan dilakukan untuk mencapai tujuan keuangan. Baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Membeli mobil, jalan-jalan ke luar negeri adalah contoh tujuan jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang biasanya berhubungan dengan persiapan sekolah anak dan persiapan masa pensiun.

Ketahui tujuan keuangan

Saat ditanya apa yang menjadi tujuan keuangannya beberapa dari kita dengan meyakinkan menjawab mencapai financial freedom ! Sangat solid dan fantastis. Betul financial freedom adalah tujuan keuangan, tapi berapa dan apa saja yang kita butuhkan untuk mencapai itu ?  Tanpa angka yang pasti, ibarat pergi berlibur tanpa tahu tujuannya dan kapan liburannya.

Tetapkan batas waktu

Selanjutnya adalah menentukan kapan ingin tujuan tersebut kita capai. Untuk proses yang berhubungan dengan sekolah anak atau persiapan masa pensiun, waktunya biasanya sudah fixed tergantung umur kita. Untuk mobil atau rumah, sangat fleksibel tergantung dalamnya kantong yang kita punya. Satu hal penting yang harus diingat dalam menentukan batas waktu : realistis. Realistis yang optimis ya, karena bagi sebagian orang mujizat juga realistis.

Ketahui posisi sekarang

Sadar dengan posisi saat ini akan sangat membantu kita dalam menetapkan batas waktu yang realistis. Besar pendapatan dan pengeluaran akan menentukan seberapa cepat kita sampai di tujuan keuangan yang diinginkan. Apabila dari metode menyimpan uang saat ini diketahui butuh waktu yang terlalu panjang untuk mencapai tujuan keuangan, tentu saja harus dilakukan beberapa penyesuaian.

 Tentukan alat untuk mencapai tujuan

Untuk berlibur sekeluarga dari Jakarta ke Bandung tentu saja tidak realistis jika kita memilih sepeda sebagai metode transportasinya. Setelah mengetahui tujuan keuangan, kapan target pencapaiannya, dan bagaimana kemampuan kita sekarang, tahap selanjutnya adalah menentukan instrumen atau media apa yang tersedia di pasaran untuk kita gunakan mencapai tujuan keuangan kita. Pasar menyediakan banyak pilihan. Tetapi sesuai dengan prinsip high risk high return, tidak semua produk cocok untuk semua orang. Kenali kemampuan kita untuk mentoleransi resiko, sehingga saat ekonomi sedang melemah, kita tidak perlu ikut-ikutan lesu dan lemas.

Tujuan keuangan kita sangat mungkin lebih dari satu, dua bahkan lima. Idealnya semua tujuan tersebut bisa dipenuhi dalam satu tepukan. Namun sayangnya kenyataan sering tidak seindah gambaran diatas kertas. Keterbatasan dari pendapatan kita menyebabkan harus ditentukan skala prioritas, kebutuhan yang mana mutlak harus didahulukan dan yang mana bisa menunggu untuk sementara waktu.

Tujuan keuangan apapun yang menjadi prioritas utama, perencanaan keuangan tetap harus dilakukan. Mulailah dengan sesuatu yang terjangkau, lebih dini lebih baik. Seiring waktu, perubahan keadaan, dan meningkatnya kemampuan, lakukanlah review terhadap proses perjalanan kita. Pastikan bahwa kita masih di jalur yang tepat menuju tujuan keuangan kita.

Plan early, live comfortably !